'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
IBU DEWI UMAROH, “JADILAH PEREMPUAN YANG PERCAYA DIRI”
10 Maret 2018 22:39 WIB | dibaca 341

Hj. Dewi Umaroh (Ketua Umum PDA Kota Tegal 2015 – 2020)

          

Hari perempuan Internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Hari perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari  1909 di New York dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika. Sejarah mengatakan bahwa perjuangan ini telah diperlihatkan sejak awal 1900-an, perjuangan ini tidak berafiliasi dengan suatu kelompok karena pemerintah, organisasi perempuan, perusahaan dan badan amal memberi perhatian atau isu perempuan. Akar dari hari perempuan internasional apt ditelusuri sampai 1908, ketika 15.000 perempuan turun ke jalan melewati New York City menuntut hak suara, upah lebih baik, dan jam kerja yang lebih pendek.

            Pada tahun 1910, muncul seorang perempuan bernama Clara Zetkin, pemimpin ‘perempuan pekerja’ untuk partai sosial demokrat di Jerman. Dia mengajukan gagasan tentang Hari Perempuan Internasional. Dia menyarankan agar setiap negara memperingati hari perempuan setiap tahun agar perempuan dapat menyampaikan tuntutan mereka. Lebih dari 100 perempuan dari 17 negara menyetujui sarannya dan Internasional Women Day (IWD) pun dibentuk. Pada tahun 1911, Hari Perempuan Internasional dirayakan untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss pada 19 Maret. Pada tahun 1913, IWD berpindah menjadi 8 Maret. Sejak saat itulah Hari Perempuan Internasional selalu diperingati setiap 8 Maret. Peringatan ini hanya diakui oleh PBB pada tahun 1975. Mulai saat itulah selalu ada tema untuk memperingati IWD.

Alasan mengapa IWD masih diperingati,  pada tujuan awalnya untuk mencapai kesetaraan gender secara utuh bagi perempuan di dunia. Tujuan ini masih belum terealisasikan. Kesenjangan upah terus berlanjut di seluruh dunia. Perempuan masih belum memiliki jumlah yang sama dengan laki – laki dalam bisnis atau politik. Secara global, pendidikan perempuan, kesehatan masih lebih buruk daripada laki – laki. Kekerasan terhadap permpuan juga terus terjadi. Sejarah singkat tersebut yang kemudian membawa hari tersebut sampai tahun 2018 ini.

            Ibu Dewi Umaroh adalah ketua umum Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Tegal periode 2015 – 2020, beliau salah satu diantara ribuan perempuan di era modern yang mempunyai peran dalam membangun peradaban perempuan khususnya di Kota Tegal. Beliau memaknai IWD sebagai suatu hari,dimana perempuan di New York membuat gebrakan untuk memperjuangkan hak – hak perempuan pada saat itu. Bagi beliau,  setiap hari yang kita semua lalui merupakan hari hari untuk para perempuan, karena sebagai perempuan dimanapun dan kapanpun tetap memperjuangkan hak – hak kaum perempuan, tetap berjuang untuk putra putrinya dan tetap bertugas sebagai seorang istri bagi suaminya. Di mata beliau Ibu merupakan sosok tauladan dan Ibu Dewi banyak belajar bahwa menjadi seorang istri hebat tidak perlu menjadi sempurna. Menjadi seorang perempuan,bagaimanapun posisinya harus menjadi sosok yang cerdas, dalam artian semua harus bisa memahami peran sesuai dengan kodratnya, sebagai anak harus berkarakter, sebagai ibu harus mampu memahami perkembangan anak,sehingga bersikap adil terhadap anak. Adil yang dimaksud adalah proposional, sesuai dengan tumbuh kembang dan kebutuhan anak. Bagi beliau sebagai sebagai seorang nenek pun harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman now, tidak menjadi otoriter dengan mengatasnamakan sayang kepada cucu, dan perlu ada komunikasi dengan anak jika mau dekat dengan cucu.

Menghadapi realita saat ini, banyak sekali terjadi kekerasan yang di alami perempuan, mulai dari rumah tangga, antar teman, bahkan pacaran pun kerap terjadi, berdasarkan laporan dari Komnas Perempuan 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani selama 2017. Sebagai perbandingan, pada 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan, Sepanjang 2017, Komnas Perempuan juga mencatat adanya 65 kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya. Pelakunya mulai dari pacar, mantan pacar, dan suami, selain juga kolega, sopir transportasi online dan pelaku anonim, bahkan sampai warga negara asing, sehingga mereka menyebutnya "kejahatan transnasional yang membutuhkan perhatian khusus pemerintah". Tidak hanya kekerasan pada perempuan, sampai detik ini pun diskriminasi terhadap hak – hak perempuan masih banyak terjadi ketimpangan, bahkan masih banyak perempuan yang masih merasa terpenjara di negara yang sudah merdeka. Peran Aisyiyah khususnya di Kota Tegal, melihat permasalahan semacam ini tentunya harus terus bersinergi antara personalia dan majelis di Aisyiyah untuk terus melakukan pencerahan terhadap kaum perempuan, melalui sosialisasi – sosialisasi, pengajian, bahkan melalui salah satu program MAMPU, Aisyiyah terus bergerak untuk kesejahteraan umat terutama perempuan.

Dengan adanya IWD, harapannya perempuan tidak hanya bergerak memperjuangkan hak hak nya saja, tetapi juga menjalankan kewajiban sebagai sosok ibu yang menjadi suri taulan, menjadi jantung di rumah, menjadi manajer rumah tangga, dan tentunya menjadi madrasatul ula  yang baikuntuk anak – anaknya. Ibu Dewi juga berpesan, menjadi seorang perempuan patut berbangga diri, karena dapat menjadi seorang ibu super, yang tau kodrat dan perannya. Dalam hal ini memiliki arti, sejak anak – anak harus bisa menjaga diri, tunjukkan bahwa perempuan bisa berkiprah untuk kemajuan negri, tidak mudah cengeng, dengan itu maka perempuan harus sehat, banyak makanan bergizi, dan rajin olah raga, agar stigma – stigma yang beranggapan bahwa perempuan lemah itu mulai memunah. Apabila perempuan sehat maka dapat berfikir jernih, mampu berargumen tepat, sehingga jadilah perempuan yang kuat lahir batin tanpa mengesampingkan kodrat. Tak lupa pula ibu Dewi Umaroh menyampaikan kepada seluruh perempuan di seantero bumi ini, bahwa “ jadilah perempuan yang percaya diri”.