'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
BSA CUT NYAK DIEN, BERIKAN EDUKASI STUNTING KE ANGGOTA BSA
27 April 2019 10:00 WIB | dibaca 122

Pada tanggal 26 April 2019 BSA Cut Nyak Dien Panggung mengadakan pertemuan yang dengan tema Stunting. Pengisian diisi oleh Bapak Triono, Kesga Gizi dari Dinas Kesehatan.. Peserta berjumlah 15 orang. Pertemuan diadakan di Rumah Ibu Sri Rejeki, Jalan Zainal Arifin, Gang 1 Panggung. Lalu pertemuan langsung diisi tentang Stunting, oleh Bapak Triono. Beliau mengajak ibu-ibu untuk mengenal stunting dan permasalahannya. Sebelum mulai masuk materi beliau memperkenalkan diri terlebih dahulu. Lalu beliau menjelaskan apa itu stunting.

Stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya (yang seusia). Beliau menunjukkan beberapa gambar melaui proyektor, agar ibu-ibu lebih paham.

Lebih lanjut Pak Triono menunjukkan perbedaan tinggi badan rata-rata anak usia 15-19 tahun dengan standar WHO 2005. Dari bagan terlihat pertumbuhan anak Indonesia lebih pendek, 13,6 cm pada usia dewasa.

Stunting terjadi sejak dalam kandungan dan akan nampak saat usia 2 tahun. Lebih dari 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Prevalensi Stunting di Indonesia adalah 37,2%, ditandai dengan Prevelensi berat bayi waktu lahir. Yaitu laki-laki <48cm dan perempuan <47 cm. saat ini sekitar 8 juta anak Indonesia mengalami pertumbuhan tidak maksimal.

Pak Triono kemudian menjelaskan bahwa Stunting dapat dicegah. Diantaranya dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan MPASI yang tepat bagi bayi di atas 6 bulan, akses air bersih dan fasilitas sanitasi. pemenuhan gizi bagi ibu hamil serta memantau pertumbuhan pertumbuhan balita di posyandu.

Beberapa dampak stunting adalah anak mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, saat tua beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, mengakibatkan kerugian ekonomi karena untuk berobat sebab anak gampang sakit, dan postur tubuh tak maksimal saat dewasa.

Stunting ancaman serius Anak Indonesia saat ini. Jumlah kasus stunting(tinggi badan/umur) tahun 2017 di kelurahan Panggung, sebesar 24 kasus. Prosentase status stunting (TB/U) di Panggung sebesar 18%. Karena itu, pemerintah melalui dinas kesehatan, memberikan kerangka konsep penurunan stunting.

Konsep penurunan stunting dengan memulai program perbaikan gizi masyarakat. Beberapa diantaranya yaitu pemberian Tablet Tambah Darah (remaja putri, calon pengantin, bumil), promosi ASI Eksklusif, promosi Makanan Pendamping-ASI, Suplemen gizi mikro, Suplemen gizi makro (PMT), tata laksana Gizi Kurang/Buruk, Suplementasi vit.A, promosi garam iodium, air bersih, sanitasi, dan cuci tangan pakai sabun, pemberian obat cacing, Bantuan pangan non-tunai. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan nantinya membuat konsumsi gizi yang adekuat, memperbaiki pola asuh, mempermudah akses ke pelayanan kesehatan, sehingga menurunkan kasus stunting di Indonesia.

Konsep penanggulangan stunting sendiri ada 2 yaitu pencegahan dan penanganan. Untuk pencegahan dinas kesehatan melalui tenaga-tenaga kesehatan memberikan solusi di 1000 hari pertama kehidupan anak. Sedangkan untuk penanganan dengan memberikan stimulus pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.

Pencegahan stunting dengan program 1000 HPK diantaranya dengan intervensi sensitive yaitu penyediaan akses dan ketersediaan air bersih serta sarana sanitasi, (jamban sehat) di keluarga, pelaksanaan fortifikasi bahan pangan (GARAM BERIODIUM), pendidikan dan KIE Gizi Masyarakat, pemberian pendidikan dan pola asuh dalam keluarga, pemantapan Akses dan Layanan KB, penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Persalinan, pemberian Edukasi Kespro 

Kemudian untuk intervensi spesifik diberikan suplementasi Tablet Besi Folat pada Bumil, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Bumil KEK, promosi dan Konseling IMD dan ASI Eksklusif, Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), pemantauan pertumbuhan di Posyandu, pemberian Imunisasi, pemberian makanan tambahan Balita Gizi Kurang, pemberian Vitamin A, pemberian Obat Cacing pada Bumil.

Untuk penanganan stunting, Dinas Kesehatan melakukan beberapa program yaitu penimbangan balita, konseling, suplementasi gizi, yankes dasar pasa balita usia kurang dari 2 tahun yang mengalami gizi kurang dengan PMT pemulihan dan konseling, sedangkan gizi buruk dengan ke Puskesmas dan Rumah Sakit.

Selain penanganan pada anak usia kurang dari 2 tahun, Dinas Kesehatan juga memperbaiki kualitas remaja putri dengan Intervensi Pendidikan dan Intervensi Kesehatan. Intervensi Pendidikan yang dilakukan diantaranya pendidikan Kespro di Sekolah, pemberian edukasi gizi remaja, pembentukan konselor sebaya untuk membahas seputar perkembangan remaja.

Sedangkan Intervensi Kesehatan diantaranya dengan memberikan suplementasi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri, pemberian obat cacing pada Remaja Putri, promosi Gizi Seimbang, pemberian Suplementasi Zink (SENG), penyediaan akses PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) di Puskesmas

Yang terakhir untuk mengatasi masalah stunting dinas kesehatan mengharapkan ibu-ibu untuk melakukan perberdayaan orang terdekat (Suami, Orang Tua, Guru, Remaja Putra) dengan Intervensi Kesehatan yaitu konsultasi perencanaan kehamilan dengan melibatkan suami dan keluarga (orang tua), pelayanan kontrasepsi bagi Suami untuk penundaan kehamilan, bimbingan konseling ke Bidan bersama dengan suami untuk penentuan tempat dan penolong persalinan, pendidikan Kespro bagi Remaja Putra, mempersiapkan konseling Calon Pengantin.

Selain Intervensi kesehatan, ada pula intervensi sosial dari masyarakat sekitar. Langkah yang bisa dilakukan yaitu penggerakan Toma (Tokoh Masyarakat) untuk mensosialisasikan Keluarga Berencana dan penyediaan bantuan sosial dari Pemda untuk Keluarga Tidak Mampu     (Keluarga Miskin)

Setelah penjelasan ada 3 pertanyaan yang diajukan ibu-ibu. Pertanyaan pertama dari ibu Juriah. Beliau menanyakan tentang cucunya yang tingginya kurang dan langkah apa yang harus dilakukan. Dia bercerita bahwa anaknya tidak mau makan bila di suapi ibunya, dan mau bila disuapi tetangga walaupun dengan lauk yang sama. Pak Triono menjelaskan mungkin anak tersebut susah makan karena si ibu pernah melakukan hal yang tidak menyenangkan saat anak tersebut diajak makan. Jadi tertekam pada otaknya. Langkah yang diambil bisa meminta bantuan tetangga untuk menyuapi, bila berkenan.

Pertanyaaanke dua dari ibu Neni. Beliau menanyakan tentang pembarian obat cacing pada Ibu Hamil. Pak Triono menjawab bahwa pemberian obat cacing bisa diberikan pada ibu hamil agar ibu bisa mendapat asupan nutrisi makanan dengan maksimal, dengan ibu indikasi terserang cacingan.

Pertanyaan ke 3 dr ibu Maryati yang menanyakan anaknya yang hiper aktif dan ditolak sekolah. Kemudian pak Triono memjawab. Bisa datang lansung ke rumah sakit dengan menggunakan BPJS untuk membicarakan dengan dokter dan bila dirujuk ke psikolog agar bisa dilihat masalahnya. Beliau bercerita, cucunya ada yang seperti itu, hiper aktif juga. Setelah beliau ke psikolog ternyata karena suka makan coklat setiap hari. Kini konsumsi coklat dihentikan dan anak tersebut normal.

Shared Post: