'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Cadre coordination with DHO for contact investigation data collection and survey - Ciptakan Kader Andal Menuju Kota Tegal Bebas TB
28 Mei 2019 20:50 WIB | dibaca 137

27 Mei Community TB Care ’Aisyiyah adakan Cadre coordination with DHO for contact investigation data collection and survey - Ciptakan Kader Andal Menuju Kota Tegal Bebas TB. Dalam rangka menjaga harmonisasi dan kolaborasi bersama antara dinas kesehatan dengan SSR untuk melakukan gerakan eliminasi TBC maka diperlukan sinergi antar entitas tersebut. Pertemuan koordinasi terintegrasi antara kader dengan dinkes bersama PKM daerah agar membangun hubungan dan koordinasi yang baik dengan fasilitas kesehatan guna mendukung kader dalam melakukan investigasi kontak. Kegiatan Investigasi kontak menggunakan data kasus yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, sehingga komunikasi antara fasilitas kesehatan, kader dan SSR terjalin dengan baik dan sinergi. Tujuan yang muncul dari keiatan ini adalah 

- Pertemuan ini untuk memastikan bahwa hubungan antara SSR, kader dengan layanan kesehatan (PKM) dan Dinas Kesehatan berjalan dengan baik dan masing-masing mampu mengambil peran dalam menyukseskan program Community TBC Care.

- Memotivasi kader agar dapat melakukan investigasi kontak dan penemuan kasus denganbaik.

- Meningkatkan kapasitas kader untuk melakukan deteksi dini terduga TBC melaluiinvestigasi kontak

- Mengumpulakan laporan capaian dalam melakukan penjaringan dan pendampinganPengobatan.

- Pertemuan kordinasi ini membahas rencana pelaksanaan investigasi kontak dan merumuskan solusi terkait kendala-kendala pelaksanaan investigasi kontak.

Community TB Care 'Aisyiyah  merupakan program penanggulangan Tuberkulosis (TB) berbasis masyarakat  yang merupakan bagian dari program Majelis  Kesehatan 'Aisyiyah dibawah pembinaan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah. Melalui Program Penanggulangan TB ini 'Aisyiyah  berupaya  berperan  serta  dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millineum Development Goals (MDGs) no 6 yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.

Sebagai amanat Muktamar dan Tanwir 'Aisyiyah, upaya penanggulangan TB ini dilakukan baik di daerah yang mendapatkan dukungan dari donor maupun secara mandiri. 'Aisyiyah  Daerah Kabupaten  Brebes   merupakan salah satu daerah yang dipercaya menjadi Sub-Sub Recipient (SSR) sejak tahun 2016  yang memiliki tugas meningkatkan  peran serta  masyarakat  dalam menyuluh, menemukan suspect, mendampingi pengobatan pasien TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse chemotheraphy = Pengobatan Jangka Pendek dengan Pengawasan Langsung), mengadakan pelatihan kepada masyarakat seperti pelatihan kader TB, tokoh agama, tenaga kesehatan dan pemerintah dan sebagainya.

Pengertian dasar dari penyakit TB adalah  penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang  disebabkan  oleh  bakteri basil yang sangat  kuat  sehingga  memerlukan  waktu  lama  untuk  mengobatinya. 

Bakteri ini  lebih  sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia. Tuberculosis (TBC)   merupakan  penyakit   menular,  bukan  penyakit  keturunan, bukan penyakit  karena guna-guna dan bukan juga penyakit karena  terkena racun. Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti  influenza dan bersifat hilang timbul.

Gejala lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), dan lemah. Untuk memastikan seseorang terkena TB atau tidak, tim medis melakukan diagnosis dengan mengadakan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung (BTA) dan gambaran radio logis (foto rontgen).

Dalam sesion   tanya jawab, muncul pertanyaan dari peserta tentang faktor utama penyebab munculnya TB-MDR dan penyebarannya. Dijelaskan oleh   Imam Syahadat   bahwa  belum  bisa  diketahui faktor utamanya, namun kebanyakan adalah karena banyak penderita tidak melanjutkan pengobatan sampai benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter.

Adakalanya, setelah  dua  bulan  menjalani  pengobatan, kondisi pasien sudah 'seperti' sembuh, karena tidak lagi merasakan gejala TB, sehingga merasa percaya diri untuk menghentikan pengobatan. Padahal, suatu saat TB bisa kambuh, dan menjadikan bakteri M tuberculosis dapat kebal pada pengobatan biasa. Selain itu, kuman bisa menyebar ke orang-orang di sekitar sehingga berpotensi menambah jumlah penderita.

Selain itu, karena efek yang ditimbulkan dari penyakit ini sangatlah besar, yang dapat mengancam  sumberdaya  manusia di Indonesia dan menyebabkan kematian pada sekitar 250 orang per hari atau sekitar 236.029 kematian akibat TB pertahunnya yang menyebabkan hilangnya satu generasi, karena TB banyak menyerang usia produktif 15 -- 49 tahun.

Bahkan dari hasil survei terbaru, jumlah kasus baru tuberkulosis atau TB di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus per tahun atau naik dua kali lipat dari estimasi sebelumnya sehingga menyebabkan posisi Indonesia pun melonjak ke negara dengan kasus TB terbanyak kedua setelah India.

Oleh karenanya, diharapkan dari kegiatan ini anggota 'Aisyiyah di segala jenjang dapat menjadi penyuluh dan motivator di masyarakat, menyebarluaskan informasi tentang bahaya TB, pencegahan dan pengobatannya sekaligus menemukan suspek (orang yang diduga sakit TB) dan bahkan bisa juga menjadi PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk memastikan pasien TB berobat teratur sampai sembuh.

Apabila ditemukan orang dengan gejala batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih, batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan, segera sarankan untuk berobat ke UPK (Unit Pelayanan Kesehatan = Klinik, Puskesmas danRumah Sakit) atau beritahukan kepada kader TB terdekat. Sampai saat ini kader TB Care 'Aisyiyah Kabupaten  Brebes  sebanyak 50 orang yang tersebar di 10 kecamatan.

Lebih lanjut mengingat  prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan  gejala  tersebut  di atas, dianggap sebagai suspek pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pemeriksaan dimaksudkan untuk memastikan diagnosa, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan

Shared Post: