'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Coordination Meeting Private Sector between Filantropi Institutional at district level
30 Juni 2019 13:05 WIB | dibaca 154

Community TB Care ’Aisyiyah Kota Tegal adakan kegiatan Pertemuan koordinasi dengan lembaga filantrophi. Kegiatan ini merupakan bagian untuk mendorong keberlanjutan program penanggulangan melalui support dana program TBC Aisyiyah tingkat Kab/Kota yang diperoleh dari lembaga filantropi atau dunia usaha.

Pertemuan kordinasi dengan filanthrophi bagian dari proses exit strategi ketika dana Hibah dari GF berkurang secara bertahap, terutama pada saat selesainya dukungan dana GF pada tahun 2020. Dukungan dana dari Filanthropi dengan menargetkan 5,000,000 per Kab/Kota pada tahun 2018, kemudian 8,000,000 per Kab/Kota tahun 2019 dan diakhir tahun 2020 ditargetkan 10,000,000 Per Kab/Kota.

Pertemuan dengan lembaga Philantrophy dilakukan dengan mengundang lembaga zakat, Badan zakat dan program CSR lainnya dari perusahaan. seperti pertamina, bank mandiri, bank BNI untuk memberikan dukungan secara konkrit.

Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan diantaranya :

- Melakukan pencarian pendanaan dari lembaga filantropi atau dunia usaha untuk mendukung kegiatan penanggalangan TBC.

- Melakukan pertemuan kordinasi dengan lembaga swasta agar dapat mendukung bantuan pendanaan TBC melalui program CSR.

Kegiatan ini dilaksanakan 

- Kegiatan di laksanakan 1 hari (fullday meeting)

- Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun 1 kali pertemuan

- Kegiatan dilaksanakan di 130 Kab/Kota

- Materi pertemuan mencakup:

a) Isu perkembangan TBC Nasional hingga Kab/Kota, (membagikan lembar Fakta TBC).

b) Penyampaian logframe program penanggulangan TBC.

c) Komitmen bersama dalam upaya dukungan dari dunia usaha dan filanthropi.

Peserta Kegiatan ini adalah :

Peserta dari lembaga filanthrophi dan private sector

- 3 orang dari lembaga filanthropi (Lazismuh, lembaga Zakat, badan zakat).

- 5 orang dari private sector (BUMN, Bank Mandiri/BRI, Pertamina, Ritel, dll).

Kita semua menyadari bahwa keberlangsungan program pemebrantasan kasus TB bersama SST TB Care Aisyiyah Kota Tegal ini tidak bisa berdiri sendiri, memburuhkan dukungan dari kelembagaan lain baik lembafa formal maupun non formal yang ada di kota Tegal ini.

 

Khususnya berkaitan dengan dana untuk mengaplikasikan program pemberantasan TB di kota Tegal.

Penyakit TB atau Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit terbesar penyebab kematian didunia. Berdasarkan data yang telah dirilis oleh World Health Organitation (WHO)  tahun 2013,  kasus kematian akibat TB di dunia hingga mencapai  1,45 juta jiwa, sedangkan jumlah penderita kasus baru penderita TB mencapai 8,8 juta penderita.

Sementara itu di Indonesia jumlah kematian akibat penyakit TB hingga mencapai 64 ribu jiwa. Belum lagi dengan pertambahan jumlah kasus baru penderita TB yang telah mencapai 450 ribu pada setiap tahunnya.

Untuk kasus penderita TB MDR atau Multi Drug Resisten, jumlah terbesar berada di Negara China, Rusia dan India, jumlah ini mencapai sekitar 290 ribu penderita atau sekitar 60 % nya. Sementara penyakit yang disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria ini, menempatkan Indonesia berada di posisi ke 8 dengan jumlah penderita sebanyak 6900 kasus penderita TB MDR setiap tahunnya.

TB MDR merupakan kasus TB resistan obat, sedikitnya 2 obat anti TB yang paling paten sekalipun seperti INH dan Rifampisin secara bersama sama atau disertai resiten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid.

Penularan TB resisten obat, TB MDR atau disebut juga TB XDR sama seperti penularan kuman TB yang tidak resiten obat pada umumnya. Orang yang tertular atau terinfeksi kuman TB resiten obat, TB MDR atau TB XDR dapat berkembang menjadi sakit TB dan akan mengalami sakit TB MDR dikarenakan yang ada didalam tubuh pasien tersebut adalah kuman TB MDR. Pasien TB MDR dapat menularkan kuman TB yang resisten obat kepada masyarakat yang ada disekitarnya.

PenyakitTuberkulosis (TB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia dan merupakan kedaruratan global bagi kemanusiaan. Berdasarkan estimasi diperkirakan sekitar 8,7 juta kasus TB baru dan 1,4 juta orang meninggal akibat TB (WHO, Global TB Report 2012), sedangkan di Indonesia setiap tahun masih ada 450.000 kasus baru dengan angka kematian 65.000 atau sekitar 178 orang per hari. 


Penyakit TB adalah penyakit menular yang mengakibatkan kematian bila tidak tertangani dengan baik. Tetapi sesungguhnya penyakit ini dapat disembuhkan. Penularan kuman TB melalui udara yaitu saat penderita batuk, bersin ataupun berbicara. Penderita menjalani standar kemoterapi selama 6 bulan lamanya. Selama terapi dilakukan maka pasien harus minum obat secara rutin dan disiplin sesuai anjuran dokter. Apabila tidak minum obat secara rutin dan tuntas maka penyakitnya akan kambuh kembali bahkan dalam bentuk yang lebih resisten atau kebal terhadap obat anti TB.


TB menyerang sebagian besar kelompok usia produktif dan masyarakat dengan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan, lingkungan kumuh, padat dan orang-orang yang mengabaikan hidup bersih dan sehat. Tetapi tidak menutup kemungkinan siapa saja dapat terpapar kuman TB karena penyebarannya yang mudah, cepat dan dimana saja di tempat umum.

Sebanyak 1/3 kasus TB masih belum terakses atau dilaporkan. Bahkan sebagian besar kasus TB terlambat ditemukan sehingga saat diagnosa ditegakkan mereka sudah dalam tahap lanjut bahkan kuman telah resistan obat sehingga sulit untuk diobati. Keterlambatan pengobatan ini bermakna, karena menunjukkan ada lebih banyak lagi penduduk yang sudah terpapar TB. Setiap tahunnya sekitar 9 juta orang terkena TB. Dan 3 juta orang tidak mendapatkan pelayanan medis yang mereka butuhkan. Mereka beresiko meninggal. Dan akan tetap terus menularkan kuman TB nya kepada orang-orang sekitarnya. 

Maka daripada itu dibutuhkan komitmen bersama untuk mendukung secara keuangan untuk keberlangsungan program dari filantropi dan kegitan hari ini.

Adapun kegiatan hari ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Sosialisasi yang lebih intensif dan mengena tentang agenda program pemberantasan Tb di kota Tegal.

2. Mengajak lembaga baik formal maupun non formal untuk berperan secara langsung dalam kegitan pemberantasan TB di Kota Tegal.

3. menggandeng berbagai elemen penting baik formal maupun norformal untuk sama –sama memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa pemberantasa TB ini adalah tanggung jawab kita semua.

4. Penguatan regulasi diperlukan, selain untuk meningkatkan sinkronisasi dan efektitas program juga untuk meningkatkan anggaran program yang selama ini masih banyak tergantung dengan dana donor.

Shared Post: